Label

Kamis, 12 Oktober 2017

Kamis, 26 Januari 2017

Wah .. terima kasih pak


Indah itu, selly !
ku lukis wajah mu
dengan kata-kata
tak begitu terang
tapi bermakna
garis lengkung di pipi indah nian berseri
hidung sedikit mancung dikala kutatap senja nun jauh terasa damai
mata indah yang kau punya
mengisyaratkan tegas adanya
untuk apa bersedih
selly !
indah itu, selly !
tak guna sedu sedan
selly !
hari masih berlanjut untuk kau miliki utuh

(diriku lebih penting)

Diriku sekarang lebih penting dari semua sejarah penderitaan masalalu

~ apa yang sebenarnya merongrong anda di dalam jiwa? Kebanyakan adalah memory-memory masa lampau yang sebenarnya hanyalah sebuah hiasan hidup, suatu saat baru anda dapat mengerti bahwa semua itu memang harus terjadi.

Tak ada seorang pun yang telah matang tanpa melalui proses “ dipanaskan”. Apapun yang telah terjadi di masa lalu tertuju pada satu kepentingan, yaitu diri anda di masa sekarang. Diri anda sekarang memang lebih penting dari masa lalu, terlebih lagi diri anda di masa depan. Memang demikianlah seharusnya bahwa anda menghargai tujuan hidup anda yaitu masa depan.


Kamis, 04 Agustus 2016

Aku Suka Cara Kita Melipat Jarak.
Jarak itu Jelas Nyata 
Tapi sama sekali kita tak menganggapnya ada -.

Senin, 02 Mei 2016

Seseorang tak akan pernah mengenal kata rapuh_
Apabila sesuatu yang patah susah tersambung kembali

Seseorang tidak akan merasakan kehilangan
Apabila yang datang tidak hanya singgah

Seseorang tidak akan menangis
Apabila kesenangan yang dirasa terlalu berlebih ....

Seseorang tidak akan terpuruk
Apabila yang dibilang move on itu mudah

Karena keterbatasan rasa yang sudah lebih dahulu
dipimpin oleh logika

Shil ,
......... kamu   bisa nikmati kehangatan
karena kamu telah tahu apa itu kedinginan

..........Kamu sambut cahaya karena
kamu pernah alami kegelapan

.........Dengan cara yang sama kamu bisa alami bahagia
karena kamu mengerti arti kesedihan ♡

Selasa, 08 Desember 2015

Pantai Lhoknga, Surga Pecinta Surfing di Ujung Sumatera


Secara administratif, Pantai Lampuuk berada di Kecamatan Lhoknga, sehingga sebenarnya sedikit ambigu membedakan antara Pantai Lampuuk dan Pantai Lhoknga. Akan tetapi, umumnya orang-orang disana memberi sebutan 'Pantai Lhoknga' untuk daerah di belakang Lapangan Golf Lhoknga hingga ke taman tepi laut setelah Komplek Pabrik Semen Andalas.

Adapun sebutan Pantai Lampuuk dikhususkan untuk ruas pantai yang membentang dari Babah Satu hingga Babah Empat. Meskipun posisi kedua pantai ini berdekatan, tetapi keduanya memiliki keunggulan masing-masing.

Jika kini pantai Lampuuk identik dengan rekreasi Banana Boat dan kuliner ikan bakarnya, maka Pantai Lhoknga lebih dikenal dengan lapangan Golf, aktivitas Surfing dan memancing. Khusus untuk selancar, ombak Pantai Lhoknga yang besar dan garang telah terkenal di kalangan komunitas selancar internasional.

Umumnya, para peselancar mengenal ada dua tipe ombak berbeda di bulan-bulan tertentu di Lampuuk. Bulan Juni hingga November di saat musim angin Barat terkenal dengan ombak pantainya (beach break), sedangkan di bulan Desember hingga Mei saat angin Timur berhembus terkenal dengan ombak karangnya (reef break).

Para peselancar pun mengenal ada lima titik ombak yang bisa dinaiki peselancar di Lampuuk. Yang pertama adalah 'Left Hander Point', yaitu ombak kiri yang berjarak 300 meter dari bibir pantai yang amat cocok bagi mereka yang baru mengenal selancar.

Kedua adalah 'Cemara Right Point', yaitu ombak kanan berjarak sekitar 300 meter dari pantai. Kedua titik ini menjadi titik favorit bagi para peselancar asal Negeri Sakura Jepang.

Selanjutnya, 'Peak Point' yaitu ombak kanan dan kiri yang berjarak 300 meter dari pantai. Arusnya yang kuat membuat para peselancar harus lebih berhati-hati disini.
  
Seorang peselancar lokal yang tewas ketika Tsunami 2004 bernama Suri diabadikan menjadi nama titik keempat, yaitu 'Suri Point' yang berjarak 200 meter dari pantai. Semasa hidupnya, Suri adalah spesialis di titik ini. Terakhir, 'Out Side Right Hander' yaitu Ombak kanan yang berjarak 500 meter dari pantai yang memiliki arus kuat dan berbahaya.

Pantai dengan jarak kurang lebih 22 kilometer dari Banda Aceh ini juga menjadi spot yang bagus untuk menikmati matahari terbenam. Suasana sore hari di Lhoknga terasa lebih sunyi dan damai.

Untuk Anda yang baru menjadi pengantin baru dan ingin mencari tempat untuk berbulan madu, Pantai Lhoknga bisa menjadi alternatif mencari tempat yang romantis. Berada di pantai ini sambil ditemani angin laut di sore hari dan cahaya langit yang mulai temaram membuat suasana terasa romantis



Masjid Raya Baiturrahman, Kebanggaan Aceh yang Melintas Sejarah


Jika ada sebuah tempat yang harus Anda kunjungi saat bertandang ke Banda Aceh, itu adalah Masjid Raya Baiturrahman. Inilah situs bersejarah yang telah ada sejak era kejayaan Kesultanan Aceh dan bertahan hingga saat ini. Masjid ini telah melalui berbagai hal, mulai dari tragedi pembakaran oleh kolonial Belanda tahun 1873 hingga hantaman tsunami di akhir 2004.

Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun di era Kesultanan Aceh. Bagian atap masjid ini dibuat sesuai dengan ciri khas masjid-masjid di Indonesia pada masa itu, atap limas bersusun empat.

Terdapat dua versi sejarah mengenai riwayat pembangunan masjid ini. Sebagian sumber menyebutkan masjid ini didirikan pada 1292 M oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah. Sementara, sumber yang lain menyebutkan masjid ini didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612 M.

Dalam perjalanannya, masjid ini pernah dibumihanguskan oleh Belanda saat serangan ke Koetaradja (Banda Aceh) pada 10 April 1873. Runtuhnya bangunan masjid memicu meletusnya perlawanan masyarakat Aceh. Mereka berjuang mempertahankan masjid hingga darah penghabisan. Pada pertempuran tersebut, pihak Belanda kehilangan seorang panglima mereka, Major General Johan Harmen Rudolf Köhler pada 14 April 1873.

Bangunan masjid lalu dibangun ulang oleh pihak Belanda atas perintah Jenderal Van Der Heijden. Pembangunan ulang masjid ini merupakan bagian dari upaya meredakan resistensi rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda. Proses pembangunan ulang Majid Raya Baiturrahman berlangsung pada 1879-1881 M. Arsitektur bangunan yang baru dibuat oleh de Bruchi yang mengadaptasi gaya Moghul (India).

Masjid yang terletak di pusat Kota Banda Aceh ini kemudian mengalami beberapa kali perluasan. Yang pertama terjadi pada tahun 1936. Atas upaya Gubernur Jenderal A. PH. Van Aken, dilakukan pembangunan dua kubah di sisi kanan dan kiri masjid. Selanjutnya, pada tahun 1958-1965, bangunan masjid kembali diperluas. Pada perluasan kedua ini ditambahkan dua kubah dan dua menara di sisi barat (mihrab). Kelima kubah ini merupakan perlambang lima elemen dalam Pancasila.

Pada tahun 1992, dilakukan pembangunan dengan penambahan dua kubah dan lima menara. Selain itu, dilakukan perluasan halaman masjid sehingga total luas area masjid saat ini menjadi 16.070 meter persegi.

Saat gelombang tsunami setinggi 21 meter menghantam pesisir Banda Aceh pada 26 Desember 2004, masjid ini termasuk bangunan yang selamat – meskipun terjadi kerusakan di beberapa bagian masjid.

Upaya renovasi pasca-tsunami menelan dana sebesar Rp20 miliar. Dana tersebut berasal dari bantuan dunia internasional, antara lain Saudi Charity Campaign. Proses renovasi selesai pada 15 Januari 2008. Saat ini, Masjid Raya Baiturrahman menjadi pusat pengembangan aktivitas keislaman bagi masyarakat Banda Aceh.
Masjid Raya Baiturrahman, Kebanggaan Aceh yang Melintas Sejarah
Jika ada sebuah tempat yang harus Anda kunjungi saat bertandang ke Banda Aceh, itu adalah Masjid Raya Baiturrahman. Inilah situs bersejarah yang telah ada sejak era kejayaan Kesultanan Aceh dan bertahan hingga saat ini. Masjid ini telah melalui berbagai hal, mulai dari tragedi pembakaran oleh kolonial Belanda tahun 1873 hingga hantaman tsunami di akhir 2004.

Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun di era Kesultanan Aceh. Bagian atap masjid ini dibuat sesuai dengan ciri khas masjid-masjid di Indonesia pada masa itu, atap limas bersusun empat.

Terdapat dua versi sejarah mengenai riwayat pembangunan masjid ini. Sebagian sumber menyebutkan masjid ini didirikan pada 1292 M oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah. Sementara, sumber yang lain menyebutkan masjid ini didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612 M.

Dalam perjalanannya, masjid ini pernah dibumihanguskan oleh Belanda saat serangan ke Koetaradja (Banda Aceh) pada 10 April 1873. Runtuhnya bangunan masjid memicu meletusnya perlawanan masyarakat Aceh. Mereka berjuang mempertahankan masjid hingga darah penghabisan. Pada pertempuran tersebut, pihak Belanda kehilangan seorang panglima mereka, Major General Johan Harmen Rudolf Köhler pada 14 April 1873.

Bangunan masjid lalu dibangun ulang oleh pihak Belanda atas perintah Jenderal Van Der Heijden. Pembangunan ulang masjid ini merupakan bagian dari upaya meredakan resistensi rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda. Proses pembangunan ulang Majid Raya Baiturrahman berlangsung pada 1879-1881 M. Arsitektur bangunan yang baru dibuat oleh de Bruchi yang mengadaptasi gaya Moghul (India).

Masjid yang terletak di pusat Kota Banda Aceh ini kemudian mengalami beberapa kali perluasan. Yang pertama terjadi pada tahun 1936. Atas upaya Gubernur Jenderal A. PH. Van Aken, dilakukan pembangunan dua kubah di sisi kanan dan kiri masjid. Selanjutnya, pada tahun 1958-1965, bangunan masjid kembali diperluas. Pada perluasan kedua ini ditambahkan dua kubah dan dua menara di sisi barat (mihrab). Kelima kubah ini merupakan perlambang lima elemen dalam Pancasila.

Pada tahun 1992, dilakukan pembangunan dengan penambahan dua kubah dan lima menara. Selain itu, dilakukan perluasan halaman masjid sehingga total luas area masjid saat ini menjadi 16.070 meter persegi.

Saat gelombang tsunami setinggi 21 meter menghantam pesisir Banda Aceh pada 26 Desember 2004, masjid ini termasuk bangunan yang selamat – meskipun terjadi kerusakan di beberapa bagian masjid.

Upaya renovasi pasca-tsunami menelan dana sebesar Rp20 miliar. Dana tersebut berasal dari bantuan dunia internasional, antara lain Saudi Charity Campaign. Proses renovasi selesai pada 15 Januari 2008. Saat ini, Masjid Raya Baiturrahman menjadi pusat pengembangan aktivitas keislaman bagi masyarakat Banda Aceh.

Monumen PLTD Apung, Saksi Bisu Kedahsyatan Tsunami Aceh



Kedhasyatan gelombang tsunami yang menerpa pesisir utara Banda Aceh pada Bulan Desember 2004 yang lalu ternyata masih meninggalkan jejak. Tidak hanya masih terbayang dalam ingatan, tsunami juga meninggalkan jejak berupa monumen. Monumen yang menjadi peringatan bagi siapapun terhadap dahsyatnya kekuatan alam.

Salah satunya adalah Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung di Desa Punge, Blancut, Banda Aceh. Sesuai namanya, kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue – tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinya tsunami.

Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak hingga ke tengah Kota Banda Aceh.

Ketika tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, kapal ini terseret gelombang pasang setinggi 9 meter sehingga bergeser ke jantung Kota Banda Aceh sejauh 5 kilometer. Kapal ini terhempas hingga ke tengah-tengah pemukiman warga, tidak jauh dari Museum Tsunami.

Dari 11 orang awak dan beberapa warga yang berada di atas kapal ketika tsunami terjadi, hanya satu orang yang berhasil selamat. Fenomena pergeseran kapal ini menunjukkan kedahsyatan kekuatan gelombang yang menimpa Serambi Makkah kala itu.

Saat ini, area sekitar PLTD Apung telah dibeli oleh pemerintah untuk ditata ulang menjadi wahana wisata edukasi. Untuk mengenang korban jiwa yang jatuh akibat tsunami, dibangun monumen peringatan. Pada monumen itu, tertera tanggal dan waktu kejadian dari musibah yang juga menimpa beberapa negara selain Indonesia.

Di sekeliling monumen, dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah. Dari atas kapal ini, pengunjung juga dapat melihat rangkaian pegunungan Bukit Barisan.