Label

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2017

(diriku lebih penting)

Diriku sekarang lebih penting dari semua sejarah penderitaan masalalu

~ apa yang sebenarnya merongrong anda di dalam jiwa? Kebanyakan adalah memory-memory masa lampau yang sebenarnya hanyalah sebuah hiasan hidup, suatu saat baru anda dapat mengerti bahwa semua itu memang harus terjadi.

Tak ada seorang pun yang telah matang tanpa melalui proses “ dipanaskan”. Apapun yang telah terjadi di masa lalu tertuju pada satu kepentingan, yaitu diri anda di masa sekarang. Diri anda sekarang memang lebih penting dari masa lalu, terlebih lagi diri anda di masa depan. Memang demikianlah seharusnya bahwa anda menghargai tujuan hidup anda yaitu masa depan.


Minggu, 25 Oktober 2015

S e p i

Mengharapkan hujan larutkan nyanyian malamku
Akankah ku rasa
Memastikan embun lepaskan nyanyian malamku
Mulai nyalakan kembali
Cukup sudah bermimpi
Kini asa ku memutih Langitku kan meninggi
Ini semua akan nyata
Mengharapkan hujan larutkan nyanyian malamku
Akankah ku rasa
Memastikan embun lepaskan nyanyian malamku
Dapatkah ku rasa....

26 Oktober 2015
Nazmi

Senin, 09 Maret 2015

NGIGAU NGARANG DALAM CINTA.

Sisa tangis kemarin
Masih terasa asin
Begitu terkecapi
Dalam diam sendiri

Tiada pernah disangka
Akhir cinta kita
Diam diam berujung luka
Menyakitkan bagai memegang bara


Kau pergi
Sejengkal pun tak mengingati
Pengorbanan cinta
Yang dulu kita bina

Kau anggap
Aku yang berkhianat
Sedangkan rupa rindu ku
Kau pun sudah tau

Dihempas rasa tak sanggup
Langkah kaki ini gugup
Gerhana didalam hujan yang kian tak redup
Arah hidup menjadi ribut

Kan ku buktikan padamu
Sisa airmata kemarin adalah permata
Tanpa nilai namun berjaya adanya
Hingga kau menyesal akan tak setia pada cinta



#Sigonndrongdalamdiam dalam NGIGAU NGARANG DALAM CINTA.
27febuari2015.22:31.
Astana airmata melangit mimpi

SELENDANG PENGIKAT KEPALA

SELENDANG PENGIKAT KEPALA


Telahpun ku kenakan selendang sebagai pengikat kepala
Untuk satu peran yang tiada satupun sutradara
Melainkan angin yang menghempang melewati telaga
Menjadikan keputusan adalah perjanjian yang disimpan diantara pelangi

Telahpun ku letakkan dupa di atas kepala
Meniadakan bara selain harap menjelmakan wewangian
Bagi hari-hari terbilang sekalipun melintang menghadang
Esa hilang dua terbilang selama nafas dikandung badan
Dan pahitpun telah menjadi keharusan manis
Sebab tiadapun nira diharapkan menetes diantara terik yang menjerang
Berharap hanyalah kemustahilan
Berserah setelah geliat berakhir pasrah
Sebab telahpun sepenggal hidup terpatahkan
Menjadikan batu diantara duri terhidang
Terpahat mengeringkan air mata
Lukapun tiada sanggup meninggalkan bekas lagi
Hujan dan matahari
Hanya itu yang ku nanti sebagai cinta yang abadi
Hujan dan matahari
Selendang telahpun pengikat kepala.

NEGERI PARA ULAR

NEGERI PARA ULAR


Negeri itu begitu saja telah berpenghuni ular
Badan tanpa kaki, tangan telinga tidak jelas lagi
Penampakannya bertahan berwujud alim ulama para cendikiawan
Aromanya tetap menggelegakkan amis

Negeri itu telah penuh kengerian
Mematikan tidak memandang marwah
Tiada peduli kepatutan kepantasan
Bisa menyembur ke segala arah
Pun tiada perbuatan yang berkenan
Negeri itu telah menjadi negeri ular
Berkhotbah bermimbar memetik kata firman
Penguraiannya menjelaskan awan menggelapkan langit
Negeri itu telah penuh ular
Menjulur pelintir di gelap melembabkan
Mengutip kitab suci kegemarannya
Meneriakkan ular lebih ahlinya.

ALIBI

ALIBI
hujan itu menjadi alibi yang menderas
membuat kuyup semua dusta
sinyal dan pesan pendek tak lagi beralamat
tak ada pulsa habiskan setiap alasan
jalan menuju rumah tinggal renungan panjang
tentang lidah yang mengulum setiap kalimat
manis dan pahitnya mencecap percakapan
dan rayuan menjadi bilangan tak terhingga

kini hujan tinggal sebuah lorong logika
dari akhir sebuah cerita sejumlah peristiwa
sebagai sebuah sampiran di sebuah beranda
di mana sesosok bayangan melenyapkan dirinya
menjadi kabut yang mengendap dan sirna
dari kepengapan yang tersisa untuk tidak dirasa
ada saatnya memang berjaga-jaga untuk
tidak sekedar membaca sebuah prosa
ketika puisi memberi setiap tanda tanpa makna
seperti hujan tak lagi menderaskan gerimis
kecuali malam yang berlapis-lapis kelam
dan tidur tak lagi harus beselimut impian

PADA MELANGIT MIMPI

Mungkin
Aku hanya bagian dari satu golongan yang terbuang
Tapi aku
Bukan dari kaum pecundang
Yang hanya tau
Menetek
Mengedot
Bahkan mengompeng
Pada susu cair mu
Pada gula gula basi mu
Aku adalah aku
Dengan nyanyian lagu rindu
Mengutip suasana haru
Tak pakai tipu tipu
Aku adalah aku
Yang ingin hidup lebih dari seribu tahun lagi
Sebabkan waktu yang ada
Lebih banyak terbuang dari tersisa
Pada melangit mimpi
‪#‎Sigondrongdalamdiam‬ dalam PADA MELANGIT MIMPI,07maret2015.22:04.
Di Astana airmata.

Kamis, 25 Desember 2014

Nasihat Jiwa ~

Jiwaku menasihatiku dan memintaku agar tidak merasa mulia kerana pujian agar tidak disusahkan oleh ketakutan kerana cacian. Sampai hari ini aku berasa ragu akan nilai pekerjaanku .  Tapi sekarang aku belajar, Bahwa pohon berbunga di musim bunga, dan berbuah di musim panas Dan menggugurkan daun-daunnya di musim gugur untuk menjadi benar-benar telanjang di musim dingin. Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau tanpa rasa malu.
 Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku Bahwa aku tak lebih tinggi berbanding cebol ataupun tak lebih rendah berbanding raksasa. Sebelumnya aku melihat manusia ada dua, Seorang yang lemah yang aku caci atau kukasihani, Dan seorang yang kuat yang kuikuti, maupun yang kulawan dalam pemberontakan. Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah yang sama darimana semua manusia diciptakan. Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan pengembaraan mereka adalah juga milikku. Bila mereka melanggar aku juga pelanggar, Dan bila mereka berbuat baik, maka aku juga bersama perbuatan baik mereka. Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka.  Bila mereka tinggal di belakang, aku juga menemani mereka.
Jiwaku menasihatiku dan memerintahku untuk melihat bahawa cahaya yang kubawa bukanlah cahayaku, Bahwa laguku tidak diciptakan dalam diriku. Kerena meski aku berjalan dengan cahaya, aku bukanlah cahaya, Dan meskipun aku bermain kecapi yang diikat kemas oleh dawai-dawaiku,Aku bukanlah pemain kecapi.
Jiwaku menasihatiku dan mengingatkanku untuk mengukur waktu dengan perkataan ini: "Di sana ada hari semalam dan di sana ada hari esok. " Pada saat itu aku menganggap masa lampau sebuah zaman yang lenyap dan akan dilupakan, Dan masa depan kuanggap suatu masa yang tak bisa kucapai, Tapi kini aku terdidik perkara ini : Bahwa dalam keseluruhan waktu masa kini yang singkat, serta semua yang ada dalam waktu, Harus diraih sampai dapat.
Jiwaku menasihatiku, saudaraku, dan menerangiku. Dan seringkali jiwamu menasihati dan menerangimu. Karena engkau seperti diriku, dan tak ada beda di antara kita. Kusimpan apa yang kukatakan dalam diriku ini dalam kata-kata yang kudengar dalam heningku, Dan engkau jagalah apa yang ada di dalam dirimu, dan engkau adalah penjaga yang sama baiknya seperti yang kukatakan ini. “LAGU OMBAK Pantai yang perkasa adalah kekasihku, Dan aku adalah kekasihnya, Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta, Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya. Kupergi padanya dengan cepat Lalu berpisah dengan berat hati. Membisikkan selamat tinggal berulang kali. Aku segera bergerak diam-diam Dari balik kebiruan cakerawala Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku Ke pangkuan keemasan pasirnya Dan kami berpadu dalam adunan terindah. Aku lepaskan kehausannya Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya Dia melembutkankan suaraku dan mereda gelora di dada. Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta di telinganya, dan dia memelukku penuh damba Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan Diiringi kecupan-kecupan kasih sayang Gerakku pantas diwarnai kebimbangan Sedangkan dia tetap sabar dan tenang. Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan Kala air pasang kami saling memeluk, Kala surut aku berlutut menjamah kakinya Memanjatkan doa Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri Menyusut kekuatanku. Tetapi aku pemuja cinta, Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa, Mungkin kelelahan akan menimpaku, Namun tiada aku bakal binasa”.

21 Nov 2014
Selina Novela