Label

Selasa, 08 Desember 2015

Monumen PLTD Apung, Saksi Bisu Kedahsyatan Tsunami Aceh



Kedhasyatan gelombang tsunami yang menerpa pesisir utara Banda Aceh pada Bulan Desember 2004 yang lalu ternyata masih meninggalkan jejak. Tidak hanya masih terbayang dalam ingatan, tsunami juga meninggalkan jejak berupa monumen. Monumen yang menjadi peringatan bagi siapapun terhadap dahsyatnya kekuatan alam.

Salah satunya adalah Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung di Desa Punge, Blancut, Banda Aceh. Sesuai namanya, kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue – tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinya tsunami.

Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak hingga ke tengah Kota Banda Aceh.

Ketika tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, kapal ini terseret gelombang pasang setinggi 9 meter sehingga bergeser ke jantung Kota Banda Aceh sejauh 5 kilometer. Kapal ini terhempas hingga ke tengah-tengah pemukiman warga, tidak jauh dari Museum Tsunami.

Dari 11 orang awak dan beberapa warga yang berada di atas kapal ketika tsunami terjadi, hanya satu orang yang berhasil selamat. Fenomena pergeseran kapal ini menunjukkan kedahsyatan kekuatan gelombang yang menimpa Serambi Makkah kala itu.

Saat ini, area sekitar PLTD Apung telah dibeli oleh pemerintah untuk ditata ulang menjadi wahana wisata edukasi. Untuk mengenang korban jiwa yang jatuh akibat tsunami, dibangun monumen peringatan. Pada monumen itu, tertera tanggal dan waktu kejadian dari musibah yang juga menimpa beberapa negara selain Indonesia.

Di sekeliling monumen, dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah. Dari atas kapal ini, pengunjung juga dapat melihat rangkaian pegunungan Bukit Barisan.

Monumen Nol Kilometer Sabang, Menjangkau Sisi Terbarat Indonesia




http://www.indonesiakaya.com/assets/imagesweb/_images_gallery/tugu-0km.jpgIndonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki 13.662 pulau, terbentang sejauh 3,5 juta mil dari barat hingga ke timur. Sebagai negara kepulauan, pulau-pulau terluar Indonesia memiliki peran vital dalam penentuan batas-batas kedaulatan negara. Hal inilah yang membuat simbol-simbol penanda geografis di sepanjang perbatasan laut Indonesia menjadi sangat penting. Salah satu diantara simbol penanda tersebut ada di ujung utara Pulau Weh, yaitu Monumen Nol Kilometer Barat Indonesia.

Monumen ini diresmikan oleh Wakil Presiden Try Sutrisno, pada 9 September 1997. Prasasti peresmian masih terpasang di lantai dasar, tepat menghadap sebuah kepingan beton berdiameter 50 cm tepat di tengah ruangan.

Di lantai dua dari monumen terdapat dua prasasti lainnya yang terpasang pada beton berbentuk kotak yang menunjukkan metode pengukuran koordinat geografi titik nol oleh para pakar BPPT. Di puncak monumen berdiri tegak patung Garuda Pancasila mencengkram angka nol dengan kakinya.



Secara teknis, sebenarnya koordinat titik terbarat dari Indonesia berada di Pulau Rondo, yang berada pada koordinat 6° 4' 30" LU, 95° 6' 45" BT. Karena pulau ini kosong dan lebih sulit diakses, maka monumen penanda titik terbarat Indonesia dibangun di sisi paling utara dari Pulau Sabang. Lokasi tepatnya berada di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya. Area sekitar monumen ini termasuk dalam kawasan Hutan Wisata Sabang.

Monumen ini kurang lebih berjarak 5 km dari Pantai Iboih (Teupin Layeu) yang sangat populer di kalangan backpacker asing. Perjalanan menuju monumen melintasi jalur menanjak dan berkelok yang dapat ditempuh sekitar 10-15 menit dari Iboih.

Sepanjang perjalanan terkadang kita masih dapat menemukan hewan-hewan liar seperti ular, kera, anjing dan babi hutan yang masih bebas berkeliaran. Di sisi kiri jalan, kita akan melintasi pos Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU yang menjadi garda terdepan pertahanan NKRI di perbatasan.
Waahh .. Indah sekali Indonesia ku !!! aku bangga jadi bagian dari Indonesia !!

Selasa, 24 November 2015

Minggu, 25 Oktober 2015

Koreksi diri


Baru kemarin dia cantik , ganteng dan jadi rebutan ...
Sekarang ? , meskipun masih cantik masih ganteng tetapi tak ada yang sudi mendekatinya, apalagi memilikinya ... !

Baru kemarin dia memikat, mempesona dan menarik simpati ...
Tetapi sekarang , orang yang paling dekat hendak pendamkan jasadnya ke dalam tanah secepatnya ... !

Baru kemarin dia selalu dinanti nanti , ditunggu tunggu ...
Sekarang keluarga pun tak mau dia ada dirumah lama lama ...

Baru kemarin dia lincah , gagah dan perkasa ...
Tetapi sekarang , mengedipkan mata pun dia tak sanggup ... !

Baru kemarin dia beli pakaian model terbaru ...
Sekarang dia pakai pakaian model lama ,

Baru kemarin dia beli parfum kualitas import ...
Sekarang tubuhnya wangi pandan dan kapur barus ... !

Baru kemarin dia luluran di salon langganan ...
Sekarang dia luluran dengan tanah ... !

Baru kemarin dia selesaikan cicilan kendaraan baru milik pribadi ...
Sekarang dia pakai kendaraan jadul ,

Baru kemarin dia makan enak di restoran mewah ...
Sekarang dia yang jadi makanan enak para cacing , ulat, kecoa dsb ...

Baru kemarin dia beli lampu kamar eksklusif 24 watt ...
Sekarang dia dalam ruang gelap 24 jam ... !

Baru kemarin surat rumahnya kelar ...
Sekarang dia tinggal di lubang tanah ... !

Baru kemarin dia minum jamu awet muda ...
Sekarang daging di tubuhnya meleleh leleh ... !

“ ... APA YANG KINI DIA HARAPKAN ...? ” ,tatkala sdh menjadi mayat & terbaring diliang lahat ?

Baru kemarin dia tidur lelap ketika adzan subuh ...
Sekarang dia sangat berharap bisa ke masjid waktu subuh walau dg merangkak ...

Baru kemarin dia lantang menentang dakwah Agama ...
Dan sekarang ini dia sangat berharap ada yang bisa dia perbuat demi Agama ...

Masihkah Dunia menjadi TUJUAN ??? Tidakkah kita iri pada mereka yang dijanjikan surga olehNya, tapi tetap berusaha keras untuk beribadah sepanjang hari & malam ? Dan kita ??? Sudah bangga dengan amalan yang biasa saja mengharap SYURGA...???